Translate Aksara Jawa ke Latin
& Sebaliknya Online

Translate aksara Jawa ke Latin dan sebaliknya secara online — gratis, cepat, lengkap dengan sandhangan,
pasangan, murda, swara, dan angka Jawa. Tanpa instal aplikasi.

0/5000
Disalin!

Apa Itu Hanacaraka?

Hanacaraka adalah sistem tulisan tradisional masyarakat Jawa yang berasal dari aksara Kawi dan masih dipakai untuk kepentingan budaya, pendidikan, serta seni. Sistem ini bersifat abugida: setiap huruf dasar sudah membawa bunyi vokal /a/, dan bunyi itu diubah memakai tanda khusus. Sebutan lain yang juga umum dipakai adalah carakan.

Jumlah huruf dasarnya ada dua puluh, dimulai dari ha, na, ca, ra, ka dan seterusnya. Urutan inilah yang melahirkan sebutan hanacaraka. Sejak tahun 2009, seluruh karakternya sudah terdaftar dalam standar Unicode, sehingga bisa ditampilkan di ponsel dan komputer modern tanpa perlu gambar.

latin to javanese words
image shown how to write latin word to javanese

Cara Menggunakan Penerjemah Ini

Prosesnya hanya butuh tiga langkah dan hasilnya muncul otomatis tanpa perlu menekan tombol apa pun.

  1. Pilih arah terjemahan. Ketuk tab di bagian atas untuk memilih Latin ke huruf Jawa, atau sebaliknya. Tombol bulat di tengah membalik arah dengan cepat.
  2. Masukkan teks Anda. Ketik langsung pada kotak kiri. Untuk mengetik karakter tradisional secara manual, aktifkan Tampilkan Papan Ketik.
  3. Salin hasilnya. Terjemahan muncul seketika di kotak kanan. Tekan Salin untuk menyalinnya ke papan klip.

Dua pengaturan tambahan tersedia. Gunakan Spasi mengatur apakah antarkata diberi jarak atau ditulis menyambung seperti naskah kuno. Gunakan Aksara Murda mengaktifkan bentuk khusus untuk nama orang, gelar, dan nama tempat.

Fitur Lengkap yang Kami Sediakan

Fitur

Keterangan

Dua arah

Latin ke huruf Jawa dan sebaliknya dalam satu alat

Sandhangan otomatis

Wulu, suku, taling, tarung, pepet, cecak, layar, wignyan

Pasangan

Gugus konsonan tersusun sesuai kaidah penulisan

Aksara murda

Bentuk penghormatan untuk nama dan gelar

Aksara swara

Vokal mandiri di awal kata

Angka Jawa

Angka nol sampai sembilan

Cakra dan pengkal

Sisipan bunyi “r” dan “y” di tengah suku kata

Papan ketik virtual

Ketik manual tanpa instal papan ketik khusus

Tanpa instalasi

Berjalan langsung di peramban, hemat penyimpanan

Semua fitur gratis tanpa perlu mendaftar akun. Alat ini ringan sehingga tetap nyaman diakses lewat jaringan seluler.

Mengenal Bagian-Bagian Penting

Memahami komponen berikut akan membantu Anda membaca hasil terjemahan dengan lebih tepat.

Aksara Nglegena

Dua puluh huruf dasar ini menjadi fondasi seluruh sistem penulisan. Setiap huruf otomatis berbunyi dengan vokal /a/ bila tidak diberi tanda tambahan. Karena itu menulis kata yang berakhir konsonan memerlukan pangkon untuk mematikan bunyi vokalnya.

Sandhangan

Sandhangan adalah tanda diakritik yang mengubah bunyi vokal bawaan sebuah huruf. Wulu mengubahnya menjadi “i”, suku menjadi “u”, taling menjadi “e”, dan pepet menjadi bunyi e lemah. Ada pula penutup suku kata: cecak untuk “-ng”, layar untuk “-r”, dan wignyan untuk “-h”. Pelajari sandhangan selengkapnya.

Javanese base character
Educational diagram illustrating consonant stacking in Javanese script

Pasangan

Ketika suku kata berakhir konsonan dan langsung disusul konsonan lain, huruf kedua berubah bentuk menjadi pasangan. Bentuk ini menempel di bawah atau di samping huruf sebelumnya. Aturan inilah yang membuat tulisan tradisional Jawa terlihat bertumpuk. Pelajari pasangan selengkapnya.

Aksara Murda dan Swara

Murda menjadi penanda penghormatan pada nama orang, gelar, dan nama tempat, meskipun tidak semua huruf memilikinya. Swara adalah vokal yang berdiri sendiri, biasanya muncul di awal kata atau pada kata serapan. Pelajari murda dan pelajari swara.

Angka dan Tanda Baca

Sistem penomorannya punya sepuluh karakter tersendiri untuk angka nol sampai sembilan. Bentuknya mirip beberapa huruf dasar, sehingga dalam naskah biasanya diapit tanda pemisah agar tidak tertukar. Pada lingsa dan pada lungsi berfungsi menyerupai koma dan titik. Pelajari angka Jawa.

Sejarah Singkat dan Filosofi Hanacaraka

Sistem tulisan ini berkembang dari aksara Kawi yang dipakai di Nusantara sejak sekitar abad kedelapan. Naskah lontar, prasasti, dan surat-surat keraton menjadi bukti sejarah penggunaannya yang panjang.

illustration of an ancient palm-leaf manuscript (2)

Di balik urutan hanacaraka tersimpan legenda Aji Saka. Kisah itu menceritakan dua abdi setia yang bertarung sampai gugur karena sama-sama memegang teguh perintah tuannya. Urutan hurufnya dibaca sebagai kalimat bermakna: ada utusan, mereka berselisih, sama-sama kuat, dan akhirnya sama-sama menjadi jasad. Baca sejarah lengkapnya.

Tips agar Hasil Lebih Tepat

Tulis kata sesuai bunyi, bukan sesuai ejaan Latin baku. Kata dhahar harus ditulis dengan “dh”, bukan “d” saja, karena kedua bunyi itu diwakili huruf berbeda. Hal yang sama berlaku untuk “th”, “ny”, dan “ng”.

Perhatikan huruf vokal e. Bunyi e pada kata desa berbeda dengan bunyi e lemah pada kata lemah. Gunakan tanda ê untuk bunyi lemah agar sistem memilih pepet, bukan taling.

Aktifkan murda hanya saat memang diperlukan. Pemakaian berlebihan pada kata biasa justru dianggap kurang tepat menurut kaidah penulisan tradisional.

Untuk Siapa Alat Ini?

Pelajar dan mahasiswa memakainya untuk tugas Bahasa Jawa maupun latihan soal. Guru menggunakannya sebagai bahan ajar yang cepat disiapkan. Desainer grafis mengandalkannya untuk membuat kaligrafi, undangan, atau logo bertema budaya Nusantara.

Peneliti dan pegiat budaya memakainya untuk membantu membaca naskah lama. Anda juga bisa melihat contoh kalimat dan penulisan nama sebagai latihan awal.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ya, sepenuhnya gratis tanpa batas pemakaian. Anda tidak perlu mendaftar, berlangganan, atau memasang aplikasi tambahan.

Alat ini mengikuti kaidah penulisan baku, termasuk sandhangan, pasangan, murda, dan swara. Untuk naskah resmi atau karya yang akan dicetak, kami tetap menyarankan pemeriksaan ulang oleh penutur asli, karena sebagian kata serapan punya lebih dari satu cara penulisan yang sah.

Fitur pemindaian foto sedang kami siapkan. Sementara ini, ketik ulang teksnya memakai papan ketik virtual. Lihat perkembangan fitur ini.

Kemungkinan besar perangkat Anda belum memiliki fon pendukung. Pasang fon Noto Sans Javanese agar seluruh bentuk huruf tampil sempurna. Panduan pemasangan fon.

Nglegena adalah bentuk dasar untuk pemakaian sehari-hari. Murda adalah bentuk khusus penanda penghormatan pada nama orang, gelar, atau nama tempat. Tidak semua huruf memiliki bentuk murda.

Bisa. Matikan Gunakan Spasi agar tulisan tampil menyambung seperti naskah tradisional. Cara penulisan tanpa jarak antarkata ini disebut scriptio continua.

Bisa. Seluruh tampilan menyesuaikan ukuran layar, termasuk papan ketik virtual yang tetap nyaman disentuh pada layar kecil.

Aktifkan Tampilkan Papan Ketik. Papan ketik virtual terbuka dengan empat kelompok tombol: nglegena, sandhangan, swara, dan angka. Ketuk tombol mana pun untuk menyisipkannya ke kotak teks.