Translate Aksara Jawa ke Latin
& Sebaliknya Online
Translate aksara Jawa ke Latin dan sebaliknya secara online — gratis, cepat, lengkap dengan sandhangan,
pasangan, murda, swara, dan angka Jawa. Tanpa instal aplikasi.
Apa Itu Hanacaraka?
Hanacaraka adalah sistem tulisan tradisional masyarakat Jawa yang berasal dari aksara Kawi dan masih dipakai untuk kepentingan budaya, pendidikan, serta seni. Sistem ini bersifat abugida: setiap huruf dasar sudah membawa bunyi vokal /a/, dan bunyi itu diubah memakai tanda khusus. Sebutan lain yang juga umum dipakai adalah carakan.
Jumlah huruf dasarnya ada dua puluh, dimulai dari ha, na, ca, ra, ka dan seterusnya. Urutan inilah yang melahirkan sebutan hanacaraka. Sejak tahun 2009, seluruh karakternya sudah terdaftar dalam standar Unicode, sehingga bisa ditampilkan di ponsel dan komputer modern tanpa perlu gambar.


Cara Menggunakan Penerjemah Ini
Prosesnya hanya butuh tiga langkah dan hasilnya muncul otomatis tanpa perlu menekan tombol apa pun.
- Pilih arah terjemahan. Ketuk tab di bagian atas untuk memilih Latin ke huruf Jawa, atau sebaliknya. Tombol bulat di tengah membalik arah dengan cepat.
- Masukkan teks Anda. Ketik langsung pada kotak kiri. Untuk mengetik karakter tradisional secara manual, aktifkan Tampilkan Papan Ketik.
- Salin hasilnya. Terjemahan muncul seketika di kotak kanan. Tekan Salin untuk menyalinnya ke papan klip.
Dua pengaturan tambahan tersedia. Gunakan Spasi mengatur apakah antarkata diberi jarak atau ditulis menyambung seperti naskah kuno. Gunakan Aksara Murda mengaktifkan bentuk khusus untuk nama orang, gelar, dan nama tempat.
Fitur Lengkap yang Kami Sediakan
|
Fitur |
Keterangan |
|
Dua arah |
Latin ke huruf Jawa dan sebaliknya dalam satu alat |
|
Sandhangan otomatis |
Wulu, suku, taling, tarung, pepet, cecak, layar, wignyan |
|
Pasangan |
Gugus konsonan tersusun sesuai kaidah penulisan |
|
Aksara murda |
Bentuk penghormatan untuk nama dan gelar |
|
Aksara swara |
Vokal mandiri di awal kata |
|
Angka Jawa |
Angka nol sampai sembilan |
|
Cakra dan pengkal |
Sisipan bunyi “r” dan “y” di tengah suku kata |
|
Papan ketik virtual |
Ketik manual tanpa instal papan ketik khusus |
|
Tanpa instalasi |
Berjalan langsung di peramban, hemat penyimpanan |
Semua fitur gratis tanpa perlu mendaftar akun. Alat ini ringan sehingga tetap nyaman diakses lewat jaringan seluler.
Mengenal Bagian-Bagian Penting
Memahami komponen berikut akan membantu Anda membaca hasil terjemahan dengan lebih tepat.
Aksara Nglegena
Dua puluh huruf dasar ini menjadi fondasi seluruh sistem penulisan. Setiap huruf otomatis berbunyi dengan vokal /a/ bila tidak diberi tanda tambahan. Karena itu menulis kata yang berakhir konsonan memerlukan pangkon untuk mematikan bunyi vokalnya.
Sandhangan
Sandhangan adalah tanda diakritik yang mengubah bunyi vokal bawaan sebuah huruf. Wulu mengubahnya menjadi “i”, suku menjadi “u”, taling menjadi “e”, dan pepet menjadi bunyi e lemah. Ada pula penutup suku kata: cecak untuk “-ng”, layar untuk “-r”, dan wignyan untuk “-h”. Pelajari sandhangan selengkapnya.


Pasangan
Ketika suku kata berakhir konsonan dan langsung disusul konsonan lain, huruf kedua berubah bentuk menjadi pasangan. Bentuk ini menempel di bawah atau di samping huruf sebelumnya. Aturan inilah yang membuat tulisan tradisional Jawa terlihat bertumpuk. Pelajari pasangan selengkapnya.
Aksara Murda dan Swara
Murda menjadi penanda penghormatan pada nama orang, gelar, dan nama tempat, meskipun tidak semua huruf memilikinya. Swara adalah vokal yang berdiri sendiri, biasanya muncul di awal kata atau pada kata serapan. Pelajari murda dan pelajari swara.
Angka dan Tanda Baca
Sistem penomorannya punya sepuluh karakter tersendiri untuk angka nol sampai sembilan. Bentuknya mirip beberapa huruf dasar, sehingga dalam naskah biasanya diapit tanda pemisah agar tidak tertukar. Pada lingsa dan pada lungsi berfungsi menyerupai koma dan titik. Pelajari angka Jawa.
Sejarah Singkat dan Filosofi Hanacaraka
Sistem tulisan ini berkembang dari aksara Kawi yang dipakai di Nusantara sejak sekitar abad kedelapan. Naskah lontar, prasasti, dan surat-surat keraton menjadi bukti sejarah penggunaannya yang panjang.

Di balik urutan hanacaraka tersimpan legenda Aji Saka. Kisah itu menceritakan dua abdi setia yang bertarung sampai gugur karena sama-sama memegang teguh perintah tuannya. Urutan hurufnya dibaca sebagai kalimat bermakna: ada utusan, mereka berselisih, sama-sama kuat, dan akhirnya sama-sama menjadi jasad. Baca sejarah lengkapnya.
Tips agar Hasil Lebih Tepat
Tulis kata sesuai bunyi, bukan sesuai ejaan Latin baku. Kata dhahar harus ditulis dengan “dh”, bukan “d” saja, karena kedua bunyi itu diwakili huruf berbeda. Hal yang sama berlaku untuk “th”, “ny”, dan “ng”.
Perhatikan huruf vokal e. Bunyi e pada kata desa berbeda dengan bunyi e lemah pada kata lemah. Gunakan tanda ê untuk bunyi lemah agar sistem memilih pepet, bukan taling.
Aktifkan murda hanya saat memang diperlukan. Pemakaian berlebihan pada kata biasa justru dianggap kurang tepat menurut kaidah penulisan tradisional.
Untuk Siapa Alat Ini?
Pelajar dan mahasiswa memakainya untuk tugas Bahasa Jawa maupun latihan soal. Guru menggunakannya sebagai bahan ajar yang cepat disiapkan. Desainer grafis mengandalkannya untuk membuat kaligrafi, undangan, atau logo bertema budaya Nusantara.
Peneliti dan pegiat budaya memakainya untuk membantu membaca naskah lama. Anda juga bisa melihat contoh kalimat dan penulisan nama sebagai latihan awal.
